Iklan

Ibadah-ibadah Malam Ramadhan

Garut Selatan
Senin, 04 Mei 2020, 09:41 WIB Last Updated 2020-05-04T02:43:26Z
GARUTSELATAN.INFO - Perintah Qiyamu Ramadhan, Dari Abu Huraihah, Nabi SAW bersabda: “Barang siapa beribadah di malam Ramadhan karena iman kepada Allah SWT dan mengharap pahala, maka ia dihapus dosanya yang telah lampau” (HR alBukhari).



Salat Tarawih 20 Rakaat, Pada umumnya salat sunah dijelaskan oleh Nabi SAW berapa rakaatnya, seperti Witir, Duha, Salat Tasbih, Salat Hari Raya, Salat Gerhana, Salat Minta Hujan dan sebagainya. Namun dalam salat Tarawih ini tidak dijelaskan segamblang salat sunah lain. Namun penetapan Tarawih 20 rakaat ini bersumber dari riwayat sahih berikut ini:

Ada 4 Tabiin yang meriwayatkan Tarawih 20 rakaat.

1. Said bin Yazid, “Umar mengumpulkan umat Islam di bulan Ramadhan dengan Imam Ubay bin Ka’b dan Tamim al-Dari, dengan 21 rakaat 1. Mereka membaca ayat-ayat ratusan. Baru selesai ketika menjelang Subuh” (Riwayat al-Baihaqi dalam al-Sunan 2/496, Abdurrazzaq dalam alMushannaf 4/260).

2. Yazid bin Rauman, “Umat Islam di masa Umar beribadah di malam bulan Ramadhan dengan 23 rakaat” (al-Muwatha’ Malik, 1/115).

3. Yahya bin Said al-Qathan, “Umar memerintahkan seseorang menjadi imam salat Tarawih dengan umat Islam sebanyak 20 rakaat” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, 2/163).

4. Abdul Aziz bin Rafi’, “Ubay bin Ka’b menjadi imam Tarawih di bulan Ramadhan di Madinah sebanyak 20 rakaat dan witir 3 rakaat” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, 2/163). 

Para Tabiin ini membuktikan bahwa di Madinah saat itu salat Tarawih 20 rakaat. Imam al-Tirmidzi berkata:

“Mayoritas ulama mengikuti riwayat Umar, Ali dan sahabat Rasulullah SAW yang lainnya sebanyak 20 rakaat. Ini adalah pendapat al-Tsauri, Abdullah bin Mubarak dan al-Syafii. Al-Syafii berkata: Seperti ini yang saya jumpai di Negeri kami Makkah. Umat Islam salat 20 rakaat” (Sunan al-Tirmidzi 3/169).

Jika masih ada kelompok yang menggugat keabsahan Tarawih 20 rakaat, maka cukup dibantah dengan pernyataan ulama Salafi, Syaikh Abdullah Alfaqih, berikut:

“Secara keseluruhan dari riwayat ini menjadi jelas bahwa 20 rakaat adalah sunat yang unggul dalam Tarawih di zaman Umar bin Khattab. Yang seperti Tarawih ini adalah hal yang populer yang diwariskan dari generasi dan mayoritas umat Islam. Riwayat Yazid bin Rauman dan Yahya Qattan adalah diterima, meski keduanya tidak menjumpai Umar. Sebab keduanya sudah tidak diragukan lagi menerima amalan ini dari sekelompok umat Islam yang menjumpai Umar dan Sahabat. Hal semacam ini tidak perlu sanad, sebab penduduk Madinah secara keseluruhan menjadi sanad Tarawih” (Fatawa Al-Islam 1/6187).

Bacaan Surat-surat Pendek Dalam Tarawih, Bacaan dalam Tarawih mulai surat at-Takatsur sampai al-Lahab dan al-Ikhlas di rakaat kedua, merupakan amalan para ulama di Mesir. Syaikh al-Azhar, Sulaiman al-Jamal (1204 H) berkata:

"Mengerjakan Tarawih dengan mengkhatamkan al-Quran selama 1 bulan lebih utama dari pada mengulang-ulang surat al-Ikhlas 3 kali di setiap rakaat, atau mengulang-ulang surat ar-Rahman, atau mengulang surat al-Ikhlas setelah surat at-Takatsur sampai al-Lahab, sebagaimana yang biasa dilakukan kebanyakan imam di Mesir (Hasyiah al-Jamal 4/325).

Hal ini berdasarkan ada seorang sahabat yang tiap rakaat membaca surat al-Ikhlas dan disampaikan kepada Rasulullah (HR al-Bukhari). Dari hadits ini Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:

"Hadits ini adalah dalil diperbolehkannya menentukan (membaca) sebagian al-Quran berdasarkan kemauannya sendiri dan memperbanyak membacanya, dan hal ini tidak dianggap sebagai pembiaran terhadap surat yang lain" (Fathul Bari 3/150).

Salawat Di Sela-sela Tarawih, Ada 2 tinjauan dalam masalah ini. Pertama, membaca shalawat di antara bilangan rakaat salat Tarawih bukan saja menjadi kebiasaan bagi umat Islam di Nusantara, tetapi juga dilakukan oleh sebagian umat Islam dari Yaman. Hal ini dibuktikan dengan fatwa ulama Yaman, yaitu Syaikh Ibnu Ziyad (975 H), beliau berkata:

"Tidak ada ulama Syafiiyah yang menjelaskan anjuran membaca shalawat kepada Nabi SAW diantara sela-sela salam salat Tarawih. Namun yang dapat dipahami dari para ulama Syafiiyah adalah anjuran membaca doa setelah selesai salat. Para ulama juga menganjurkan mengawali doa dan mengakhirinya dengan bacaan shalawat kepada Rasulullah SAW keluarga dan para sahabatnya. Dengan demikian, anjuran membaca shalawat dalam Tarawih adalah dengan melihat faktor tersebut" (Talkhish al-Fatawa Ibnu Ziyad 94, Hamisy kitab Bughyah).

Kedua, karena larangan melanjutkan salat ke salat berikutnya tanpa dipisah dengan pindah tempat atau ucapan. Seperti hadits:

“Rasulullah SAW memerintahkan kita seperti itu, yaitu tidak menyambung ke salat berikutnya hingga kami berkata sesuatu atau keluar dahulu” (HR Muslim).

Qunut Salat Witir, “Sungguh telah diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa beliau tidak Qunut kecuali dalam separuh kedua bulan Ramadhan, dan beliau Qunut sesudah rukuk. Ini adalah pendapat sebagian ulama, diantaranya al-Syafii dan Ahmad” (Sunan al-Tirmidzi, 2/309).

Witir Dipisah atau Disambung?

“Rasulullah SAW salat malam dua rakaat dua rakaat, lalu witir 1 rakaat” (HR at-Tirmidzi).

“Inilah yang diamalkan oleh sebagian ulama diantara para Sahabat Nabi SAW dan Tabiin. Mereka berpendapat bahwa 2 rakaat dipisah dengan yang ketiga yaitu witir 1 rakaat. Ini adalah pendapat Malik, Syafii, Ahmad dan Ishaq”  (Sunan al-Tirmidzi, 2/304).

Tadarus Bulan Ramadhan, Ibadah puasa dan membaca al-Quran adalah dua ibadah yang serangkai akan memberi syafaat di akhirat:

Rasulullah SAW bersabda: “Puasa dan al-Quran akan memberi syafaat (pertolongan) pada seorang hamba di hari kiamat”. Puasa berkata: “Ya Tuhanku, karena aku orang tersebut menahan makanan dan syahwat. Berilah syafaat bagiku untuknya”. Al-Quran juga berkata: “Ya Tuhanku, karena aku orang tersebut menahan tidak tidur di malam hari. Berilah syafaat bagiku untuknya”. Lalu keduanya diterima syafaatnya untuk hamba tersebut (HR Ahmad dan Thabrani, perawinya sahih).

Pelaksanaan Tadarus atau mengaji al-Quran di masjid selama Ramadhan sudah dilaksanakan di masa Sayidina Umar:

“Diriwayatkan dari Abi Ishaq al-Hamdani: Ali bin Abi Thalib keluar di awal Ramadhan, lentera dinyalakan dan kitab Allah SWT di baca di masjid-masjid. Ali berkata: Semoga Allah SWT menerangimu, wahai Umar dalam kuburmu, sebagaimana engkau telah menerangi masjid-masjid Allah SWT dengan al-Quran” (Riwayat Ibnu Syahin).

Lailatul Qadar, “al-Qadr artinya adalah keputusan hukum terhadap sesuatu, karena besarnya kedudukan dan kemuliaan malam tersebut, dan karena di malam tersebut Malaikat menulis takdir-takdir yang terjadi di malam tersebut sampai 1 tahun ke depan” (Faidl al-Qadir Syarah al-Jami’ ash-Shaghir 2/199).

Sejarah Lailatul Qadar, Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW suatu hari menceritakan 4 orang dari Bani Israil yang menyembah Allah SWT selama 80 tahun, yang tidak pernah berbuat maksiat sekejap matapun, yaitu Ayub, Zakariya, Hizqil bin ‘Ajuz dan Yusya’ bin Nun. Maka para sahabat mengagumi hal itu. Kemudian datanglah Jibril kepada Nabi SAW dan berkata: “Wahai Muhammad, umatmu kagum dengan ibadah selama 80 tahun, yang tidak pernah berbuat maksiat sekejap matapun. Kemudian Allah SWT menurunkan yang lebih baik dari ibadahnya orang Israil tersebut. Kemudian Jibril membacakan kepada Nabi: “.Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (al-Qadr: 1-3) Ini lebih utama dari pada yang dikagumimu dan umatmu”. Kemudian Rasulullah dan sahabat merasa senang dengan hal itu” (Tafsir Ibnu Katsir 8/443).

Mengabarkan Lailatul Qadar, “Rasulullah SAW keluar hendak mengabarkan Lailatul Qadar, kemudian ada pertengkaran diantara 2 orang dari kaum Muslimin. Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh aku keluar untuk mengabarkan pada kalian tentang Lailatul Qadar. Dan sungguh fulan dan fulan bertengkar, maka Lailatul Qadar diangkat. Mungkin ini lebih baik bagi kalian. Carilah Lailatul Qadar di malam 25, 27, dan 29” (HR alBukhari dari Anas).

Amalan Malam Lailatul Qadar, Anas berkata: “Amal ibadah di malam Lailatul Qadar, sedekah, salat dan zakat adalah lebih utama daripada 1000 bulan” (al-Hafidz asSuyuthi dalam ad-Durr al-Mantsur 10/303).

Doa Lailatul Qadar, Dari Aisyah, ia bertanya: “Wahai Rasul jika saya mengetahui Lailatul Qadar apa yang saya baca?” Nabi SAW bersabda: “Bacalah Allahumma, Engkau maha pemaaf, nan mulia. Senang memaafkan. Maka ampunilah saya” (HR Turmudzi).
Komentar

Tampilkan

Terkini

Wisata Jabar

+